siapakah aku

View my complete profile!

abe
adita
buyung
nabil
Antok<


Friday, November 25, 2005

   Cintaku
KU Salah MENcintaimu


Bayangmu,

Kenangan tentang dirimu,

Akan selalu ku kenang dalam kalbuku,

Namun, Maafkanlah Aku

Karena ku tak pernah mencintaimu.

Cintaku bukanlah untukmu.

Lupakan, Lupakan segala yang telah terjadi.
perasaan, hati dan semuanya.
dan rontaan itu menyadarkanku
ternyata, ku salah menilaimu
Bahkan ku salah mencintaimu,

namun itu hanyalah sebuah masa lalu
Diriku bukanlah kekasihmu!!!!

Po- 24 Nov- 05

========================================================

posted by Juwariah Arie | 0 Comments

Wednesday, November 23, 2005

   Air Mata di Pagi Hari...

Ayah... Ku selalu Mengagumimu......

Ayah.... Betapa ku takut kehilanganmu...

Ayah... Kapan aku akan bisa selalu bersamamu...

Ayah... Ku Mohon....

Tetaplah bersamaku...
Temaniku
dalam setiap lagkahku...
dalam setiap desah perjuanganku...

Ayah..., Ku selalu Merindukannmu.

AYAH, BETAPA KU TAKUT KEHILANGANMU
Ayah..., Betapa Aku Takut Kehilanganmu...!!!

By: Ariella
Bagaimanakah perasaan kita, apabila tiba-tiba kita harus perpisah dengan orang yang kita cintai, sementara kita belum siap di tinggalkan olehnya?. Betapa kita menyanyangi dan tidak ingin kehilangan orang yang kita cintai di dunia ini. Kekhawatiran akan kehilangan orang yang kita cintai tiba-tiba menyergap di saat kita sama sekali tidak siap menghadapi kedatangannya. Cerita ini aku tuliskan ketika hari itu aku benar-benar takut kehilangan orang yang sangat aku cintai dan hormati dalam hidupku. Ayah... !!! betapa aku berdoa semoga saja engkau di beri kekuatan olehnya.

Pagi itu udara pagi berhembus pelan namun amat sangat terasa dingin ku rasakan. Hari itu adalah hari terakhirku aku berada di kampung halaman sebelum aku meninggalkannya kembali entah untuk berapa lama. Ku pandang hamparan pelataran yang begitu asri dan bersih yang hanya bisa aku pandang beberapa hari saja. Rasanya berat sekali aku meninggalkan kembali tanah kampung kelahiranku. Tiba-tiba saja aku ingin selalu berada di tempat ini, selamanya!

Oh Tuhan, rasanya berdesir darahku ketika Aku ingat rasanya di sini aku hanya mampir saja. Rasa ingin tinggal lebih lama itu tiba-tiba muncul dan semakin menyesak. Aku ingin tetap tinggal di sini, menemani Ayah dan Bundaku. Berbakti kepada mereka. Mempersembahkan ketulusan dan cinta kepada mereka berdua, orang –orang yang telah berjasa memberikan semua yang berarti dalam hidupku.

Bayangan masa kecil tiba-tiba datang begitu saja di pikiranku. Saat kami anak-anakmu masih kecil, belajar besama, makan bersama, menantimu pulang dari sawah dan makan malam bersama apa adanya. Kesederhanaan itu melahirkan keakraban dan kecintaan di keluarga kami. Namun kini, hal itu sulit sekali di temukan, karena kami semua, Anak-anakmu telah memilih jalan hidupnya sendiri-sendiri.

Air mata ini tak kuasa Aku bendung lagi ketika aku teringat sudah bertahun-tahun Aku berpisah dengan Ayah dan Ibuku. Dengan penuh sayang, cinta, dan pengorbanan mereka mendorong dan memberi motivasi kepadaku untuk selalu berdoa dan bersyukur atas segala rahmad dari Tuhan Yang Maha Esa. Oh Tuhan, kapankah kita bisa berkumpul dan bergabung serta berbagi kebahagiaan seperti dahulu???

Segera Aku menyeka air mataku ketika Aku mendengar Ayah memanggilku.

“Nduk, tulung gawekke Bapak kunir apu”! ucap Ayah dari kamar.

Segera Aku beranjak dari tempatku berdiri dan menuju ke kamar Ayah.

“Gawe apa Yah?” Tanyaku tidak mengerti.

“ Perut Ayah sakit, rasanya tidak enak sekali.” Jawab Ayah sambil memegangi perutnya.

“ Ayah sakit????” tanyaku kepada Ayah yang terbaring di tempat tidurnya.

“ Gak tahu nih, perut Ayah sakit sekali.” Jawab Ayah sambil berdiri dan berjalan ke dapur sambil terus memegangi perutnya.

Ku ikuti Ayah pergi ke dapur untuk mengambil kunyit dan membuat kunir apu sendirian. Karena memang sebetulnya saya sudah lupa apa itu kunir apu.

“ Ayah sakit apa sebetulnya.” Tanyaku panik.

“ Sakit perut aja kok.” Jawab Ayah singkat.

“Ayah sudah panggil Mbok Dhe Tami untuk mijit Ayah. Ntar kalo dia datang jangan lupa di buatkan minum.” Pesan Ayah kepadaku.

“ Iya.” Jawabku sambil menuju ke dapur untuk membuat sarapan buat Ayah.

Benar. Beberapa menit kemudian Mbok Dhe Tami datang dan bertanya kepadaku.

“Bapak sakit ya Nduk??” tanyanya sambil menuju ke ruangan tengah.

“ Gak tahu Mbok. Katanya perutnya sakit.” Jawabku tenang –tenang saja.

Kemudian Mbok Tami berjalan ke ruang tengah dan mulai memijit Ayah. Namun beberapa saat kemudian Aku lihat Ayah melintas di depanku dan menuju ke kamar mandi.

Hatiku bagaikan lepas dari tempatnya ketika Aku dengar Ayah berteriak dan megerang kesakitan dari kamar mandi. Oh Tuhan, ada apakah gerangan. Segera Aku lari ke kamar mandi dan ingin melihat apa yang terjadi. Dengan tangan dan bibir gemetar Aku ketuk pintu kamar mandi.

“ Ayah… Ayah nggak apa-apa khan?? Tanyaku dengan kekhawatiran yang mencekam.

“ A Y A H …”!!!! sekali lagi aku berteriak ingin memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa terhadap beliau.

“ Nggak, Ayah tidak apa-apa, cuman Ayah tidak tahu sakit apa yang Ayah rasakan.” Jawab Ayah terbata-bata nyaris tidak terdengar.

Sedikit lega hatiku ketika Aku mendengar jawaban Ayah dari dalam. Air mata ini semakin bercucuran ketika ku sadari beberapa tetangga telah berkerumun di kamar mandi karena mendengar erangan Ayah. Oh Tuhan, berikanlah kekuatan kepada Ayahku.

Beberapa menit kemudian Ayah keluar dari kamar mandi, dan aku bisa merasakan bahwa beliau benar-benar menahan sakit yang luar biasa. Ku pandang wajah tua dan lelah Ayahku dengan perasaan berdosa. Maafkan aku Ayah. Perasaan bersalah itu semakin besar ketika ku sadari aku tidak bisa memberikan apapun kepada beliau. Kesedihan yang memuncak itu hanya terlampiaskan dengan air mata yang terus bercucuran tanpa bisa aku tahan.

Ayahku terbaring di ruang tengah, di kerumunan para tetangga. Ku sembunyikan air mata itu di balik senyuman dan berusaha meyakinkan tetangga dan meyakinkan mereka bahwa tidak akan terjadi sesuatu apapun terhadap Ayah. Walaupun keyatannya hatiku sendiri tidak kalah paniknya. Aku memegang tangan Ayah. Dingin…dingin sekali Aku merasakan. Tangan tua Ayah serasa tanpa daging setelah bertahun-tahun aku tidak pernah punya kesempatan untuk memegang tangan Ayah. Ternyata, Ayahku sudah benar-benar tua. Tangan yang lelah mencari nafkah untuk kami. Anak-anaknya. Semakin erat Aku genggam tangan Ayah, Aku ingin berbagi kehangatan dengan beliau. Ayah… katakanlah apa yang harus Aku lakukan agar Ayah tidak merasakan sakit itu. Saat itu hanya satu yang ada dalam pikiranku, Aku sangat takut kehilangannya.

Kesedihan itu semakin memuncak ketika ku lihat Ayah meneteskan air mata dan menyembunyikan wajahnya ke bantal. Aku bisa merasakan bahwa sakit yang beliau rasakan masih ada di sana. Sambil terbata-bata beliau berkata kepada salah satu tetangga kami.

“Kang, sebetulnya aku itu tidak keberatan apabila harus di panggil Tuhan sekarang, namun aku masih punya banyak kewajiban. Tugasku di dunia ini belum selesai. Aku masih belum bisa memandirikan anak – anakku.” Ujar ayah sambil memejamkan mata.

Hatiku bagaikan teriris ketika Ayah berkata seperti itu di depan ku. Namun akupun tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya diam membisu. Betulkah Tuhan akan mengambil Ayah secepat itu. Sementara kami masih haus akan kasih sayang beliau?? Tuhan maha adil, Aku hanya bisa pasrahkan diri ke hadapannya.

“Oh Tuhan Yang Maha Agung. Hindarkanlah dan lindungilah Ayah. Aku mohon ya Allah!!. Tabahkanlah hati kami menghadapi cobaanMu.”

“Kamu kuwi ngomong opo to!!! Jawab Pak Dhe Man yang kebetulan di ajak bicara sama Ayah.

“Iya, Mbah.., emangnya mati itu gampang.” Tambah Yu Yat yang dengan perhatian mengurut kaki Ayah.”

“ Pak, Pun ngomong kados Ngoten (Baca: Pak, Jangan bicara demikian).” Tambah Mbok Dhe Tami.

“ Lha iya, Ayah ngomong apa sih.” Tambahku sambil menyeka air mataku.

Tak kuasa aku menahan semuanya. Aku belari ke belakang. Lari ke kamar mandi. Dan mengadu kepada Tuhan.

“ Ya Allah, jangan Engkau siksa Ayahku dengan rasa sakitnya Ya Allah.”
“ Aku tidak mengiginkan apapun kecuali kesehatan bagi Ayahku.”

Kepedihan hatiku semakin menganga ketik Aku sadari keesokan harinya Aku harus berangkat untuk meninggalkan mereka lagi. Bisakah, mampukah, dan relakah Aku tinggalkan Ayahku dalam keadaan seperti itu?” Oh Tuhan tunjukkanlah jalan bagi hambaMu ini.

“ Rie..., kamu gak apa-apa khan.” Terdengar suara kakakku dari luar yang kebetulan baru datang dari pasar dengan Ibu.

Ku rasakan kesedihan dan kepedihan terlihat dari mata kakak perempuanku yang pertama. Matanya pun memerah, bahkan sepertinya dia sangat khawatir sekali.

Tersenyum aku melihat kedatangannya.

“ Udah pulang kak?? Ibu mana ???” Tanyaku kepadanya.

“ Di dalam melihat Ayah.” Jawab Kakak pelan.

Ku langkahkan kembali kakiku ke dalam rumah. Namun Aku tidak ingin mendengar saat Ayah mengatakan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi di dunia ini. Barulah aku sadar, malam sebelumnya Ayah baru saja meminta maaf kepada Aku , dan Kakakku,

“ Nduk... Ayah mohon maaf sebesar-besarnya seandainya Ayah tidak bisa memberikan kebahagian dan kasih sayang penuh kepada kalian. Karena hanya sampai di sini kemampuan Ayah untuk membahagiakan kalian.” Ucapan Ayah tiba-tiba terngiang di telingaku.

Ketakutan yang luar biasa tiba-tiba muncul dengan sendirinya. Bagaimana seandainya Ayah meninggalkan kami? Bagaimanah Aku harus menenangkan Ibuku. Oh Tuhan, bantulah hambaMU menyingkirkan perasaan itu.

Sekitar jam 14;30 akhirnya Ayah bersedia di bawa ke dokter setelah berkali-kali aku meyakinkan dia bahwa harus di ketahui apa sebab sakit beliau. Walaupun masih dengan agak tidak puas akhirnya Ayah menurut untuk pergi ke Dokter.

Atas berkat Rahmad Allah yang maha kuasa akhirnya Ayah bisa berkurang sakitnya dengan bantuan obat dari Dokter. Keadaan Ayah berangsur membaik pada kesoren harinya. Terimakasih Ya Allah Engkau dengar dan kabulkan doa hambaMU.

Hari itu Aku mendapatkan pelajaran yang luar biasa dari Allah SWT. Bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini. Bahwa betapa Aku menyadari bahwa Aku sangat takut kehilangan orang yang aku sayangi. Ayahku.

Ayah, Ibu maafkanlah nanda yang selalu meninggalkanmu. Membiarkan engkau merindukan nanda. Terpisah dan selalu terpisah entah sampai kapan. Walaupun sebetulnya aku ingin sekali merawat dan menemani kalian. Masih selalu teringat kata-katamu Ayah yang semakin membuat hatiku seakan di tusuk pisau tajam.

“ Ayah sangat bahagia, saat Ayah sakit seperti ini ada yang merawat. Ada yang mengingatkan dan melayani ayah minum obat. Kamu di sini membawakan air minum untuk Ayah minum Obat. Namun Ayah sudah cukup bersyukur walaupun hari ini adalah hari pertama dan terakhir kamu merawat Ayah. Ayah tahu besuk kamu harus berangkat kerja lagi. Jangan khawatir keadaan Ayah. Ayah baik-baik saja. Ayah akan sangat bahagia apabila bisa melihat kamu, kakak-kakakmu dan adikmu suskses. Kesuksesan kalian adalah hadiah terbesar buat Ayah.” Ungkap Ayah dengan tersenyum penuh wibawa. Yach… aku telah menemukan ketegaran Ayah kembali.

Hari itu tanggal 24 November 2005, Aku berjanji kepada diriku sendiri dan kepada Ayah, aku akan cepat pulang dan membawa kesuksesan itu. Untuk Ayah. Untuk Ibu, kakak-kakak dan adikku tersayang. Walaupun dengan penuh keperihan dan kepedihan aku hanya bisa menitipkan Ayah kepada Adik dan Ibuku, sebelum kemudian Aku berpamitan untuk pergi.

Ya Allah, Ya Rabb. Telah Engkau tunjukkan jalan itu kepada hambaMu.

Ayah…, Ibu…, Maafkanlah Nanda apabila tidak bisa bersama kalian di saat kalian merindukan kami. Satu hal yang ingin aku ungkapkan, kasih sayangmu tidak akan pernah hilang di manapun nanda berada. Sejauh apapun kasih itu selalu nanda rasakan.
Ibu, Nanda titip Ayah. Maafkan Nanda karena tisak bisa berada di samping kalian.

Tak lupa Aku mengucapkan terimakasih kepada Sugianto Adikku semata wayang yang tersayang yang telah merawat Ayah. Kakak Ipar dan keponakanku yang sangat aku sayangi. Kak Wahyu dan Kak Annie, semoga Allah selalu melindungi kalian semua. Yu Yat, Mas Slamet, semoga saja kebahagian selalu di limpahkan kepada kalian berdua. Mok dhe Tami dan Pak Dhe Man, semoga saja di berikan umur panjang Olehnya. Pak Dhe Mani dan keluarga, kami semua sangat mencintai kalian. Dan tak lupa Kang Siran, semoga kesuksesan selalu berpihak kepadamu.

Teman, ternyata takut kehilangan orang yang kita sayangi adalah ketakutan tebesar yang pernah saya rasakan. Ketakutan akan hilangnya sebuah kasih sayang dan perhatian. Semoga saja kita semua selalu di dekatkan dengan orang –orang yang mencintai dan kita cintai. Amien.

Ponorogo 22 November 2005

Arie






posted by Juwariah Arie | 1 Comments

Monday, November 14, 2005

   TEMPatku Di LAHIRKAN
















Sawah membentang, jalan berliku, padi yang menguning yang selalu ku rindukan...
Desaku..., TempatKU Di Lahirkan, I MIss U....

Desa Kelahiranku Nan Ku Cinta


Puisi ini Aku persembahkan untuk Desaku yang tercinta. Kampung di mana aku di lahirkan. Di besarkan. Walaupun aku tidak sempat tinggal lama di sana, namun kebahagiaan itu selalu aku rasakan ketika aku berada dalam naunganmu.

Desah Kampung Halaman

Jalanan berliku, Berkelok, penuh dengan keindahan
Bersih, segar, menyapa, penuh dengan keakraban
Keindahan yang terlalu langka untuk di temukan
Keakraban yang terlalu sulit untuk di ciptakan

Desaku, Kampung halamanku
Keindahanmu, keakrabanmu …
Itulah yang selalu ku damba darimu
Yang selalu ku pamerkan kemanapun Aku pergi

Indahnya sapaan persaudaraan tiap pagi
Ketika para petani mulai beraksi
Dengan kegiatan mulia yang tak begitu di hargai
Bahkan sering di anggap tak berarti

Desaku, Kampung halamanku
Katalanlah…
Apa yang harus aku lakukan untukmu
Agar sesuatu yang beguna bisa ku persembahkan
Sungguh....
Aku merasakan…
Ketentraman...
Kedamaian...
Tatkala aku berada dalam pangkuanmu.



Wagir Lor, Ngebel, Ponorogo
14- November-2005


At Home
Arie


posted by Juwariah Arie | 0 Comments

Saturday, November 12, 2005

   Pulang Kampung
PerJalananku Dengan Garuda Indonesia




“Perjalananku sampai ke Surabaya dengan menggunakan Garuda Indonesia benar-benar meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Kebanggaan yang semakin menguat membuatku serasa ingin berteriak kepada semua kawan di Hong Kong, bahwa Garuda Indonesia kini betul-betul mampu bersaing dengan maskapai penerbangan internasional lainya. Sebagai Warga Negara Indonesia, sudah sepantasnya kita dukung keberadaannya. Artikel ini ditulis sebagai hadiah dan oleh –oleh dari perjalanan saya dengan menggunakan Garuda Indonesia. ”

#Dari Hong Kong ke Jakarta#

Selamat datang di Garuda Indonesia! Itulah kata-kata lembut dari seorang pramugari Garuda Indonesia saat aku menapakkan kaki di pesawat pembawa bendera Republik Indonesia. Sang pramugari segera menunjukkan tempat dudukku. Hari itu Kamis (10/11/2005) saya berkesempatan untuk menggunakan Garuda Indonesia untuk mengantar sillaturahmi ke tanah air. Dalam hati aku cuman berfikir “ Ternyata Indonesia itu kaya sekali ya, mempunyai maskapai penerbangan sendiri.” Perlakuan yang ramah tamah dan senyuman dari pramugari dan pramugara amat terasa selama penerbangan.
Penerbangan yang menyenangkan benar-benar aku rasakan saat itu. Aku melihat bahwa sebagian besar penumpang pesawat Garuda Indonesia adalah orang Indonesia. Lengkaplah sudah kerukukan sesama warga negara Indonesia, apalagi diselingi dengan canda tawa beberapa pramugari dan pramugara dengan kami.

Beberapa saat kemudian para pramugari memberikan pilihan menu makanan. Satu lagi yang membuatku semakin bangga, karena Garuda Indonesia hanya menyediakan menu halal, hingga kita tak perlu khawatir mendapat santapan non halal. Seusai menikmati hidangan yang begitu lezat, tanganku sudah tidak sabar lagi untuk segera mengambil dan membaca majalah GARUDA yang tersedia di depan setiap tempat duduk. Isi majalah tersebut amat bervariasi dan enak dibaca hingga membuatku lupa bahwa perjalanan empat jam telah kami tempuh. Akhirnya dengan pelan namun pasti pesawat Garuda Indonesia mendarat dengan mantap di Bandara International Soekarno – Hatta, Cengakareng, Jakarta.

Di Bandara Soekarno- Hatta, Cengakareng, Jakarta

Setiba di bandara Cengkareng, petugas darat Garuda Indonesia segera memandu kami menuju loket imigrasi. Mereka menyambut kedatangan kami dengan sapaan dan senyum khas Garuda Indonesia. Para penumpang penerbangan Hong Kong ke Jakarta dibagi dalam tiga kategori. Pertama, kelompok yang menggunakan stiker putih adalah mereka yang menggunakan tiket biasa, baik tujuan Jakarta maupun yang memiliki penerbangan lanjutan keesokan harinya, tapi tanpa fasilitas hotel/makan pagi. Kedua, stiker biru diberikan kepada mereka yang memiliki penerbangan lanjutan pada hari yang sama, dan ketiga, stiker hijau untuk mereka yang memiliki penerbangan keesokan harinya dan mendapat fasilitas hotel plus makan pagi di hotel Quality Bandara. Stiker ini diberikan pada saat check in di Bandara International Hong Kong guna memudahkan petugas darat bandara Cengkareng agar untuk mengenali para penumpang, sehingga tidak perlu masuk mengikuti jalur TKI yang menuju ke terminal 3.
Seperti apa yang diungkapkan oleh Deky Saputra, salah satu petugas darat Garuda Indonesia Bandara Cengkareng, bahwa petugas darat masih menemui kesulitan untuk mengenali penumpang mana yang mendapatkan fasilitas hotel dan mana yang tidak. Menurutnya, masih banyak teman penumpang yang seharusnya mendapatkan fasilitas hotel, tapi ternyata masuk ke terminal 3. “Agar bisa memberikan pelayanan yang optimal, kami berharap agar pihak Garuda Indonesia Hong Kong memberikan tanda khusus untuk penumpang yang mendapatkan fasilitas hotel agar tidak lepas dari pantauan petugas darat, hingga petugas bisa dengan mudah dan cepat mengenali serta memandu perjalanan mereka. Karena kalau hanya stiker, masih sulit bagi kami untuk mengenali para penumpang, apalagi jika mereka tiba bersamaan dengan penumpang Garuda Indonesia dari negara lainnya,” ucap Deky saat berbincang dengan RoseMawar di Quality Hotel, Cengkareng.
“Khusus untuk teman-teman dari Hong Kong, terutama pemegang tiket STPC, apabila tiba di Bandara Soekarno- Hatta, kami sarankan untuk segera melapor kepada kami, para petugas darat untuk menghindari masuk ke jalur TKI. Kami sendiri siap untuk membantu dan memandu mereka.” tambahnya.
Ticket STPC sendiri adalah tiket yang disertai dengan fasilitas khusus dari Garuda Indonesia, berupa fasilitas hotel dan sarapan pagi di Quality Hotel Bandara Soekarno – Hatta. Fasilitas ini diberikan secara gratis kepada seluruh rekan pemegang tiket khusus Domestic Helper yang memiliki lanjutan penerbangan keesokan harinya. Bagi rekan pemegang tiket non Domestic Helper (tiket ini tidak disertai dengan fasilitas hotel/makan pagi serta jumlah bagasi hanya 20 kilogram saja- red) dan ingin mendapatkan fasilitas tersebut, rekan bisa datang ke kantor Garuda Indonesia untuk tambah bayar, dengan jumlah variasi, tergantung tujuan.
Dengan menggunakan jasa Garuda Indonesia, rekan-rekan Domestic Helper Indonesia mendapatkan berbagai fasilitas yang tidak diberikan penerbangan lainnya, malah beberapa maskapai asing kini mencoba meniru langkah yang diterapkan Garuda Indonesia. Program pemberian fasilitas hotel membebaskan rekan-rekan dari bayang-bayang buruk tentang perlakuan semena-mana para petugas bandara serta kisah pemerasan yang sering kita dengar.
Setelah keluar dari loket imigrasi, kami kemudian dipandu lagi oleh petugas Garuda Indonesia untuk mengambil bagasi, membawanya ke petugas bea cukai, dan akhirnya menuju Hotel Quality, yang berada dalam kompleks bandara juga.

Pulang ke tanah air dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia adalah yang pertama kalinya bagiku. Sebelumnya aku selalu menggunakan pesawat yang langsung terbang ke Surabaya, demi menghindari Bandara Soekarno Hatta yang konon penuh dengan cerita duka mengenai terminal tiga, mulai dari pemerasaan hingga perlakukan tidak adil dari oknum-okmun yang tidak bertanggung jawab. Namun kini gebrakan baru Garuda Indonesia cukup manjur untuk menghindarkan rekan-rekan Domestic Helper Indonesia dari keharusan memasuki terminal tersebut. Kekhawatiran dan bayangan buruk tentang Bandara Cengkareng benar-benar hilang setelah aku berkesempatan untuk membuktikannya sendiri, tentu saja berkat Garuda Indonesia.
Akhirnya, keesokan harinya, aku melanjutkan perjalananku yang menyenangkan dengan Garuda Indonesia menuju Surabaya. Terima kasih Garuda Indonesia (Untuk keterangan lebih lanjut mengenai Garuda Indonesia, hubungi 2522 9140, 2840 0000, 2846 4329, 2846 4338, dan hotline khusus sms 9247 7518).

posted by Juwariah Arie | 0 Comments

Saturday, November 05, 2005

   Me..., It's My Self
Sahabatku, kala ku sendiri


Pohonku yang dulunya hanya batang

Bantal kesayanganku, yang selalu membuatku tertawa....
Pohon Kecilku, dalam masa pertumbuhan...???!!!


Saving Coins of mine..., So Cute right.... hehehe....


Ini Juga boneka kecilku. lihatlah senyumnya lutchu khan...???


Kala ku sedang Gundah dalam kesepian...

Hari Raya idul Fitri baru menginjak hari yang ketiga.
Duh..., hari ini rasanya bete banget dech.., gundah and i don't know what happend with me.

Ku pandangi barang2 kesayanganku di sekelilingku..., hehehe... mereka selalu setia bersamaku.

Pa..., Ibu..., aku ingin pulang...

itulah selalu kata2 yang terucap dan terngiang di kepalaku apabila aku sedang sendirian...

ya... buat puisi aja dech....

" Dalam Sebuah Lingkaran"

Berputar ku dalam sebuah bayang
Melalui betapa sesaknya menyibak perjalanan
Berpacu dalam setiap rekaman drama kehidupan...

Akh..., Duniaku...
Terjebak aku dalam kesepian dan kesendirianku
Terkunci ku dalam angan dan perasaan yang tak menentu
berontak hatiku kala ku temukan keberadaanku...

Desahan nafas panjang dalam setiap akhir lamunanku
Lamunan kegelisahan, ...
Kegundahan, ...
Kepastian tuk hadapi kenyataan
Ku ingin keluar...
Tinggalkan...
Tinggalkan semuanya dengan sebuah senyuman....


Arie,
Home, 5 Nov 05


posted by Juwariah Arie | 0 Comments

  • iNdonESIAn JourneY
  • BirthDay
  • Akhirnya, Aku Bebas Darinya...!!!
  • Ada Apa denganku...???
  • Arti Mencintai Seseorang
  • Still got The Blues
  • Minggu Nan Indah
  • Ketika Wanita Menangis Karenamu
  • Ketika Sopan Santun Mulai terlupakan
  • Bocah LUar Biasa
  • July 2005
  • August 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • March 2006
  • April 2006
  • May 2006
  • August 2006
  • bla..bal..bla...

    designed by : p3ny4iR K3l4n4